Follow by Email

Jumat, 05 Desember 2008

Kabupaten Puncak Jaya

Kabupaten Puncak Jaya

BAGI penggemar hobi naik gunung, Puncak Carstensz memiliki tantangan tersendiri. Wilayah ini merupakan satu-satunya puncak tertinggi di zamrud khatulistiwa dengan keistimewaan selalu diliputi salju. Salah satu pintu masuk puncak tertinggi di dunia ini adalah Kabupaten Puncak Jaya.

SEKITAR 90 persen kondisi topografi Kabupaten Puncak Jaya berupa pegunungan. Daerah di Pegunungan Tengah Provinsi Papua ini memiliki ketinggian 500 sampai 4.500 meter di atas permukaan laut. Daerah yang berpenghuni hanya sampai ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut. Jika lebih tinggi lagi, hanya hawa dingin, flora, dan fauna pegunungan tinggi yang menyelimuti sampai puncak, sedang sebagian kecil wilayahnya di hilir Sungai Membramo.

Pegunungan di Puncak Jaya juga menghasilkan tambang cukup besar. Namun, sayang hasil tambang Ertsberg, Grasberg di Puncak Carstensz, di Kecamatan Ilaga, tembaga dan emas diangkut ke Mimika untuk diolah PT Freeport Indonesia.

Wilayah berupa pegunungan ini yang pada tahun 2000 statusnya berkembang menjadi daerah otonom sulit dicapai lewat darat. Wilayah Puncak Jaya yang bergunung tinggi dan berlembah curam bergantung pada sarana transportasi udara. Kabupaten ini sebagian besar dihubungkan oleh angkutan udara dari Sentani (Jayapura), Nabire, Wamena, dan Timika. Penerbangan komersial yang melayani Puncak Jaya ialah Merpati Nusantara, Trigana Air Service, dan Mimika Air. Ada juga pesawat milik gereja, Mission Aviation Fellowship (MAF).

Transportasi udara menjadi salah satu peluang investasi di Puncak Jaya. Beberapa kecamatan, seperti Mulia dan Ilaga, memiliki lapangan terbang perintis yang bisa didarati pesawat jenis Twin Otter atau Fokker kapasitas 1.000-1.500 kilogram. Biaya sekali naik sekitar Rp 600.000 sampai Rp 700.000. Berdasarkan hasil pengamatan pemerintah kabupaten, pendapatan kotor pesawat Twin Otter Rp 50 juta sampai Rp 75 juta per hari. Pemerintah daerah juga mengalokasikan Dana Alokasi Umum Tahun Anggaran 2003 sekitar Rp 1,06 miliar untuk membuka isolasi daerah lainnya dengan membangun bandara perintis di Kecamatan Ilu, Sinak, Beoga, dan Fawi.

Alternatif lain yang sedang dikembangkan adalah sarana transportasi darat. Saat ini jalan darat yang dapat dilalui kendaraan bermotor baru dapat menghubungkan ibu kota kabupaten dengan Kecamatan Tingginambut, Ilu, dan Yambi. Panjang jalan sampai tahun 2003, yang beraspal 9,7 kilometer, kerikil 98,5 kilometer, dan tanah 870,41 kilometer. Namun, sekarang sudah dibangun jalan yang menghubungkan Wamena, pusat distribusi bahan pokok bagi wilayah Pegunungan Tengah Papua, dengan Mulia, ibu kota Kabupaten Puncak Jaya. Walau masih berupa jalan kerikil atau tanah, sudah banyak yang memanfaatkan.

Sejak Wamena ditetapkan sebagai pusat ***** bahan kebutuhan pokok ke wilayah terpencil di Pegunungan Tengah, pedagang dari Mulia lebih memilih membeli bahan kebutuhan pokok ke Wamena daripada jauh-jauh ke Kota Jayapura untuk dijual kembali ke Mulia. Membeli barang di Wamena akan lebih murah daripada ke Kota Jayapura. Ongkos angkut barang Jayapura-Wamena sekitar Rp 4.500 per kg dan Wamena-Mulia sekitar Rp 2.000 per kg, sedangkan ongkos angkut barang Jayapura-Mulia Rp 15.000 per kg.

Jarak tempuh Wamena-Mulia lebih pendek daripada Mulia-Jayapura; menggunakan pesawat terbang dapat ditempuh 25 menit. Selain itu, ada alternatif lain melalui jalan darat meskipun harus memakai kendaraan seperti jenis hardtop.

Pertanian menjadi potensi utama Puncak Jaya, terutama bahan pangan dan perkebunan. Kontribusi tanaman bahan pangan 75,38 persen pada kegiatan ekonomi tahun 2001. Selama ini, tanaman yang banyak diusahakan penduduk setempat adalah palawija, seperti ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, dan kedelai. Ubi jalar banyak dijumpai karena menjadi makanan pokok masyarakat asli sebagai mayoritas penduduk Puncak Jaya, seperti suku Lani atau Dani, suku Damal, Suku Dawaa, Wano, dan Nduga.

Kabupaten Puncak Jaya juga memiliki potensi untuk pengembangan tanaman hortikultura terutama sayuran, seperti kol, wortel, kentang, dan buncis. Wilayahnya yang berupa pegunungan juga berpotensi untuk pengembangan tanaman buah dataran tinggi, seperti apel, markisa, dan anggur. Budidaya tanaman hortikultura ini sudah diusahakan di semua kecamatan, namun penanganannya belum optimal. Pemasarannya sebagian besar masih untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Kabupaten Puncak Jaya juga memiliki potensi perkebunan, seperti kopi dan teh. Kabupaten ini adalah penghasil kopi kedua setelah Kabupaten Jayawijaya. Luas areal tanaman kopi tahun 2001 3.051 hektar, menghasilkan 4.201 ton biji kopi. Lahan perkebunan kopi arabika di Kecamatan Fawi. Untuk memperbesar produksi tahun anggaran 2002, pemerintah kabupaten merealisasikan Rp 1,8 miliar dari dana otonomi khusus untuk pembukaan lahan tanaman kopi di Kecamatan Mulia, Beoga, Sinak, Ilu, Fawi dan Ilaga.

Secara de jure, Puncak Jaya sudah menjadi kabupaten administrasi bersama Kabupaten Paniai tahun 1996. Namun, perkembangan pembangunan baru terlihat sejak berstatus otonom. Laju pertumbuhan sektor bangunan tahun 2000 mencapai 90,4 persen. Pembangunan jalan, jembatan, dan gedung memacu sektor ini. Namun, tahun 2001 laju pertumbuhannya sempat turun sekitar 21,6 persen. Masalah keamanan menjadi penyebab utama turunnya sektor pembangunan di wilayah ini. Naik turunnya laju pertumbuhan (berdasarkan harga konstan) tidak banyak mengubah kontribusi bangunan terhadap kegiatan ekonomi, 4,8 persen tahun 2001 (harga berlaku).a

(sumber: http://www.kompas.co.id)

Tidak ada komentar:

Pengikut